Hari ini Dian Termenung " aku benci hari Senin" katanya dalam hati, Bahu , kaki , tangan terasa lunglai, rasanya pengin melanjutkan tidur, bermimpi indah tentang para pangeran yang tidak perlu bekerja, tetapi tetap bisa merasakan kemewahan hidup atau tentang pemuda-pemudi yang di warisi oleh orang tua mereka kekayaaan yang melimpah sehingga hanya kongkow -kongkow saja menghabiskan hari. Tapi tentu Dian tidak bisa melanjutkan tidur, dia harus bekerja hari ini, tidak perduli jarak antara rumah dan tempatnya bekerja hampir 40 KM, tidak perduli sepeda motor yang di berikan oleh mandornya sudah di tarik dan di berikan kepada kawannya si Lane yang meghiba- hiba untuk di pinjami sepeda motor karena katanya jarak rumahnya lebih jauh, tidak perduli sekarang hanya ada sepeda Ontel butut yang bisa di kendarai.
Dian teringat akan anak isterinya yang butuh nafkah darinya, teringat akan orangtuanya yang butuh bantuan darinya, Dian mulai mengayuh pedal sepedanya, sambil memperhatikan disekelilingnya, terlihat pak Amir yang sedang mempersiapkan dagangannya, pak Amir sehari-hari memang berjualan Sate ayam gerobak keliling kampung.Satenya enak sesuai dengan merk yang di tuliskan di gerobaknya " Sate Ayam Mak nyoos", pak Amir tidak pernah kelihatan murung, dia selalu ceria,itulah yang mungkin membuatnya satenya hampir selalu habis setiap hari. terlihat juga Mak nyak yang sedang menyiangi sayur-sayuran yang akan di bawanya ke pasar, Mak nyak sudah hampir 60 tahun, badannya kecil tapi lincah dan cekatan, Sayuran yang jumlahnya hampir segerobak itu dalam waktu singkat sudah sukses dia siangi dan di ikat-ikat kecil.Harusnya
Mak nyak sudah pensiun jualan tetapi karena suaminya sakit ginjal, dan butuh biaya untuk cuci darah, terpaksa dia yang menggantikan posisi suaminya, tetapi Mak nyak menjalaninya dengan ikhlas dan tanpa keluh kesah.
Tepat jam 8 pagi Dian sampai di tempat bekerjanya , sebuah gudang perabotan rumah tangga produk impor dari luar negeri, Dian bertugas sebagai tenaga penjual produk tersebut, Dian sudah bekerja di tempat ini lebih dari sepuluh tahun,dan dia sudah di mandori oleh 4 orang mandor semenjak dia mulai bekerja sampai dengan sekarang. Mandor Dian yang sekarang bernama sayuti ,orang-orang memanggilnya dengan sebutan" pak Rambo", badannya besar seperti Rambo dalam film hollywood yang terkenal itu,orangnya pemarah dan suka mengingat-ingat kesalahan anak buahnya.
Dian pernah di marahi oleh pak Rambo ini dan di suruh istirahat di rumah 10 hari tanpa gaji gara-gara target jualan Dian tidak pernah tercapai. Pernah terlintas dalam pikiran Dian untuk berhenti bekerja dan menjadi wira usaha, tetapi Dian mencintai pekerjaannya satu-satunya yang menjadi penghalang untuk berkembangnya Motivasi Dian adalah pak Rambo ini.
Sudah 2 perabotan yang terjual oleh Dian hari ini, tiba -tiba Dian ingat akan anak dan istrinya yang menunggu di rumah , teringat akan orang tuanya yang menunggu bantuan darinya, kemudian teringat akan pak Amir yang tidak pernah murung , selalu ceria dalam mencari nafkah, juga Mak nyak yang ikhlas bekerja tanpa keluh kesah , Dian membatin dalam hatinya " aku akan selalu berjuang demi anak dan isteriku , demi orang tuaku, aku tidak boleh putus asa, karena tuhanlah yang akan memberi rezeki kepadaku, bukan si pak Rambo, aku tidak boleh kehilangan motivasi hanya karena si lane yang pandai menghiba- hiba ".
Jam 8 malam Dian kembali ke rumah , hari ini dia berhasil menjual 10 perabotan, sementara targetnya cuma 5, dia sangat bersyukur atas karunia yang di berikan tuhan kepadanya hari ini. Besok Dian bertekad bisa menjual perabotan 12 unit.
Pekanbaru, 20 september 2015
Ansyar Feli
Dian teringat akan anak isterinya yang butuh nafkah darinya, teringat akan orangtuanya yang butuh bantuan darinya, Dian mulai mengayuh pedal sepedanya, sambil memperhatikan disekelilingnya, terlihat pak Amir yang sedang mempersiapkan dagangannya, pak Amir sehari-hari memang berjualan Sate ayam gerobak keliling kampung.Satenya enak sesuai dengan merk yang di tuliskan di gerobaknya " Sate Ayam Mak nyoos", pak Amir tidak pernah kelihatan murung, dia selalu ceria,itulah yang mungkin membuatnya satenya hampir selalu habis setiap hari. terlihat juga Mak nyak yang sedang menyiangi sayur-sayuran yang akan di bawanya ke pasar, Mak nyak sudah hampir 60 tahun, badannya kecil tapi lincah dan cekatan, Sayuran yang jumlahnya hampir segerobak itu dalam waktu singkat sudah sukses dia siangi dan di ikat-ikat kecil.Harusnya
Mak nyak sudah pensiun jualan tetapi karena suaminya sakit ginjal, dan butuh biaya untuk cuci darah, terpaksa dia yang menggantikan posisi suaminya, tetapi Mak nyak menjalaninya dengan ikhlas dan tanpa keluh kesah.
Tepat jam 8 pagi Dian sampai di tempat bekerjanya , sebuah gudang perabotan rumah tangga produk impor dari luar negeri, Dian bertugas sebagai tenaga penjual produk tersebut, Dian sudah bekerja di tempat ini lebih dari sepuluh tahun,dan dia sudah di mandori oleh 4 orang mandor semenjak dia mulai bekerja sampai dengan sekarang. Mandor Dian yang sekarang bernama sayuti ,orang-orang memanggilnya dengan sebutan" pak Rambo", badannya besar seperti Rambo dalam film hollywood yang terkenal itu,orangnya pemarah dan suka mengingat-ingat kesalahan anak buahnya.
Dian pernah di marahi oleh pak Rambo ini dan di suruh istirahat di rumah 10 hari tanpa gaji gara-gara target jualan Dian tidak pernah tercapai. Pernah terlintas dalam pikiran Dian untuk berhenti bekerja dan menjadi wira usaha, tetapi Dian mencintai pekerjaannya satu-satunya yang menjadi penghalang untuk berkembangnya Motivasi Dian adalah pak Rambo ini.
Sudah 2 perabotan yang terjual oleh Dian hari ini, tiba -tiba Dian ingat akan anak dan istrinya yang menunggu di rumah , teringat akan orang tuanya yang menunggu bantuan darinya, kemudian teringat akan pak Amir yang tidak pernah murung , selalu ceria dalam mencari nafkah, juga Mak nyak yang ikhlas bekerja tanpa keluh kesah , Dian membatin dalam hatinya " aku akan selalu berjuang demi anak dan isteriku , demi orang tuaku, aku tidak boleh putus asa, karena tuhanlah yang akan memberi rezeki kepadaku, bukan si pak Rambo, aku tidak boleh kehilangan motivasi hanya karena si lane yang pandai menghiba- hiba ".
Jam 8 malam Dian kembali ke rumah , hari ini dia berhasil menjual 10 perabotan, sementara targetnya cuma 5, dia sangat bersyukur atas karunia yang di berikan tuhan kepadanya hari ini. Besok Dian bertekad bisa menjual perabotan 12 unit.
Pekanbaru, 20 september 2015
Ansyar Feli