Minggu, 23 April 2017

Menjadi Pengemudi yang Baik untuk Diri Sendiri




Ada beberapa tanggapan yang masuk ke Email dan WA saya,setelah tulisan di blog Catatan Andi Syarmi yang berjudul ‘’If You Pay Fresh Meats,You Get Lions’’ posted.Ada yang bertanya, apakah ini fiksi atau real story ?.Karena menurut si penanya, yang lebih banyak bercerita bukan penulis,tetapi  Afan.Apakah tokoh ini ada atau hanya rekaan penulis ?.Atau apakah penulis dengan Afan itu sebenarnya adalah satu individu yang sama?.

Atas pertanyaan –pertanyaan tersebut,saya hanya bisa menyatakan bahwa tulisan itu bersumber dari kisah nyata Afan.Dia menceritakan kisah ini untuk di tulis oleh saya, untuk berbagi pengalaman dengan orang  lain.Barangkali bisa menginspirasi,individu lain yang senasib dengannya.Soal apakah tokoh Afan adalah rekaan,karena sebetulnya tokoh itu dan penulis adalah satu individu yang sama,biar sajalah waktu yang akan mejawab nantinya.

Hari ini,saya berkunjung ke toko Afan.Toko yang menjual barang keperluan sehari-hari itu, di jadikan Afan sebagai usaha perdana,setelah resign sebagai karyawan.Menurut Afan,usahanya ini akan di jadikannya batu pijakan untuk merancang dan menciptakan bisnis-bisnis yang lain.Saya melihat sebuah toko yang  cukup profesional,mulai dari lay out,kebersihan dan service kepada pelanggan,di tangani dengan baik.

Setelah puas melihat dan berkeliling di tokonya,saya di ajak Afan untuk ngopi dan ngobrol di rumahnya.Dan mulailah Afan bercerita.

***

Di akhir karirnya sebagai karyawan,Afan melihat dan mendengar banyak para karyawan senior yang mengeluh tentang karir dan kehidupannya.Pengeluaran yang  bertambah,seiring dengan penambahan anggota keluarga,tidak di iringi dengan peningkatan salary yang memadai.Pos pengeluaran growth 20% setiap tahun,sementara pendapatan hanya bertambah kurang dari 10% setiap tahun.Sehingga terjadi defisit anggaran keuangan,yang kemudian di tambal dengan ngutang. 

Bagi yang kreatif,mereka berusaha menambah pos-pos pendapatan dengan berbagai cara.Ada yang memanfatkan kelebihan pekarangan di rumah,untuk di buat kios kecil dan ada juga yang memanfatkan internet untuk jualan secara online.Atau yang lebih ekstrem,sebagian dari mereka yang merasa dirinya capable,mengundurkan diri dan kemudian bekerja di perusahaan lain yang menawarkan salary lebih tinggi or menjadi entreprenuer full time.

Tetapi bagi kolega Afan yang lain,yang merasa dirinya berkemampuan baik,padahal sebetulnya goblok,hanya bisa menyalahkan perusahaan atas ketidak mampuan dirinya untuk mencari solusi atas masalah keuangan yang dihadapi.Macam petatah-petitih rang tuo-tuo suku Minang,’’Bak galagak gulai kincuang,bak honjak  galanggang tingga’’.Hanya bisa berkoar-koar,tanpa punya planning yang tepat untuk masa depan.Giliran di PHK,karena tidak punya kontribusi positif terhadap perusahaan,mereka nangis memohon-mohon supaya tetap di pertahankan.

Orang seperti ini mungkin tidak pernah mendengar nasihat Benjamin Franklin,seorang filsuf, penulis dan penemu beberapa teori kelistrikan dari USA,yang menyatakan bahwa kata-kata saja tidak cukup untuk membuat orang jadi kenyang,karena kerja keraslahlah yang bisa mengatasinya.Atau orang-orang ini tidak pernah membaca dan mendengar kisah hidup Dahlan Iskan,dengan moto hidupnya kerja,kerja,kerja,yang sekarang di tiru oleh pemerintah itu.

Afan pernah mengalami fase ini dalam hidupnya,ketika dia kecewa dengan beberapa atasannya di perusahaan tempatnya bekerja terakhir.Kekecewaan yang menyebabkan demotivasi,dan kemudian justru merugikan karirnya sendiri.Tapi Afan cepat menyadari kesalahannya,dan mulai mempersiapkan diri untuk menjadi pengusaha.Sambil terus bekerja,Afan mulai ikut pelatihan dan seminar tentang entrepreneurship.

Walaupun  lebih dari  tiga tahun setelahnya baru berhenti menjadi karyawan,karena Afan menunggu saat yang tepat untuk keluar.Afan menunggu untuk memperoleh pension reward yang pantas,yang kelak bisa di pakai sebagai modal untuk berwira usaha.Meski hati tidak lagi ingin menjadi karyawan,tapi akal sehat dan strategi harus tetap di kedepankan untuk membendung emosi,yang mungkin bisa merugikan diri sendiri.

***  

Sambil mendengarkan kisah Afan,saya teringat buku best seller karya Rhenald Khasali yang berjudul Self Driving.Buku yang berkisah tentang bagaimana mengasah mental  menjadi seorang pengemudi yang baik bagi diri sendiri,yaitu seseorang yang memiliki kemampuan istimewa untuk bergerak maju,percaya diri,berani mengambil resiko untuk kemajuan dan selalu mengembangkan diri.

Tidak terjebak kedalam mentalitas penumpang yang buruk,sehingga terbelenggu dengan aura negatif yang penuh kepiluan dan kenestapaan.Kalaupun terpaksa harus  menjadi penumpang ,maka jadilah penumpang yang baik, sopan,tidak neko-neko dan ikut membantu pengemudi untuk mencapai tujuan perjalanan.

Saya pikir,Afan adalah calon good driver.Dia menempa dan mengasah dirinya untuk mencapai level itu.Sampai sekarang pun, Afan selalu menyempatkan diri untuk menambah ilmu di sela kesibukannya.Baginya ilmu adalah harta yang tidak ternilai harganya, serupa air bersih di padang pasir yang tandus,yang kemudian dengan air itu bisa melenyapkan dahaga dan menumbuhkan pengharapan yang hampir sirna.

Saya bangga bisa menjadi salah satu sahabat Afan,serta berharap pertemanan kami akan berlanjut sampai akhir dan tidak akan pernah putus.




Pekanbaru,24 April 2017
Andi Syarmi

0 komentar:

Posting Komentar