Ada beberapa tanggapan yang masuk ke Email dan
WA saya,setelah tulisan di blog Catatan Andi Syarmi yang berjudul ‘’If You Pay Fresh Meats,You Get Lions’’
posted.Ada yang bertanya, apakah ini fiksi atau real story ?.Karena menurut si
penanya, yang lebih banyak bercerita bukan penulis,tetapi Afan.Apakah tokoh ini ada atau hanya rekaan
penulis ?.Atau apakah penulis dengan Afan itu sebenarnya adalah satu individu
yang sama?.
Atas pertanyaan –pertanyaan tersebut,saya
hanya bisa menyatakan bahwa tulisan itu bersumber dari kisah nyata Afan.Dia
menceritakan kisah ini untuk di tulis oleh saya, untuk berbagi pengalaman
dengan orang lain.Barangkali bisa
menginspirasi,individu lain yang senasib dengannya.Soal apakah tokoh Afan adalah
rekaan,karena sebetulnya tokoh itu dan penulis adalah satu individu yang
sama,biar sajalah waktu yang akan mejawab nantinya.
Hari ini,saya berkunjung ke toko Afan.Toko
yang menjual barang keperluan sehari-hari itu, di jadikan Afan sebagai usaha
perdana,setelah resign sebagai
karyawan.Menurut Afan,usahanya ini akan di jadikannya batu pijakan untuk
merancang dan menciptakan bisnis-bisnis yang lain.Saya melihat sebuah toko yang
cukup profesional,mulai dari lay
out,kebersihan dan service kepada pelanggan,di tangani dengan baik.
Setelah puas melihat dan berkeliling di
tokonya,saya di ajak Afan untuk ngopi dan ngobrol di rumahnya.Dan mulailah Afan
bercerita.
***
Di akhir karirnya sebagai karyawan,Afan
melihat dan mendengar banyak para karyawan senior yang mengeluh tentang karir
dan kehidupannya.Pengeluaran yang bertambah,seiring
dengan penambahan anggota keluarga,tidak di iringi dengan peningkatan salary yang memadai.Pos pengeluaran growth 20% setiap tahun,sementara
pendapatan hanya bertambah kurang dari 10% setiap tahun.Sehingga terjadi defisit
anggaran keuangan,yang kemudian di tambal dengan ngutang.
Bagi yang kreatif,mereka berusaha menambah
pos-pos pendapatan dengan berbagai cara.Ada yang memanfatkan kelebihan
pekarangan di rumah,untuk di buat kios kecil dan ada juga yang memanfatkan
internet untuk jualan secara online.Atau
yang lebih ekstrem,sebagian dari mereka yang merasa dirinya capable,mengundurkan diri dan kemudian bekerja di perusahaan lain
yang menawarkan salary lebih tinggi
or menjadi entreprenuer full time.
Tetapi bagi kolega Afan yang lain,yang merasa
dirinya berkemampuan baik,padahal sebetulnya goblok,hanya bisa menyalahkan
perusahaan atas ketidak mampuan dirinya untuk mencari solusi atas masalah
keuangan yang dihadapi.Macam petatah-petitih rang tuo-tuo suku Minang,’’Bak galagak gulai kincuang,bak honjak galanggang tingga’’.Hanya bisa
berkoar-koar,tanpa punya planning yang tepat untuk masa depan.Giliran di PHK,karena
tidak punya kontribusi positif terhadap perusahaan,mereka nangis memohon-mohon
supaya tetap di pertahankan.
Orang seperti ini mungkin tidak pernah
mendengar nasihat Benjamin Franklin,seorang filsuf, penulis dan penemu beberapa
teori kelistrikan dari USA,yang menyatakan bahwa kata-kata saja tidak cukup
untuk membuat orang jadi kenyang,karena kerja keraslahlah yang bisa mengatasinya.Atau
orang-orang ini tidak pernah membaca dan mendengar kisah hidup Dahlan
Iskan,dengan moto hidupnya kerja,kerja,kerja,yang sekarang di tiru oleh
pemerintah itu.
Afan pernah mengalami fase ini dalam
hidupnya,ketika dia kecewa dengan beberapa atasannya di perusahaan tempatnya
bekerja terakhir.Kekecewaan yang menyebabkan demotivasi,dan kemudian justru merugikan karirnya sendiri.Tapi Afan
cepat menyadari kesalahannya,dan mulai mempersiapkan diri untuk menjadi
pengusaha.Sambil terus bekerja,Afan mulai ikut pelatihan dan seminar tentang entrepreneurship.
Walaupun lebih dari
tiga tahun setelahnya baru berhenti menjadi karyawan,karena Afan
menunggu saat yang tepat untuk keluar.Afan menunggu untuk memperoleh pension reward yang pantas,yang kelak
bisa di pakai sebagai modal untuk berwira usaha.Meski hati tidak lagi ingin
menjadi karyawan,tapi akal sehat dan strategi harus tetap di kedepankan untuk
membendung emosi,yang mungkin bisa merugikan diri sendiri.
***
Sambil mendengarkan kisah Afan,saya teringat
buku best seller karya Rhenald
Khasali yang berjudul Self Driving.Buku
yang berkisah tentang bagaimana mengasah mental
menjadi seorang pengemudi yang baik bagi diri sendiri,yaitu seseorang
yang memiliki kemampuan istimewa untuk bergerak maju,percaya diri,berani
mengambil resiko untuk kemajuan dan selalu mengembangkan diri.
Tidak terjebak kedalam mentalitas penumpang
yang buruk,sehingga terbelenggu dengan aura negatif yang penuh kepiluan dan
kenestapaan.Kalaupun terpaksa harus
menjadi penumpang ,maka jadilah penumpang yang baik, sopan,tidak
neko-neko dan ikut membantu pengemudi untuk mencapai tujuan perjalanan.
Saya pikir,Afan adalah calon good driver.Dia menempa dan mengasah
dirinya untuk mencapai level itu.Sampai sekarang pun, Afan selalu menyempatkan
diri untuk menambah ilmu di sela kesibukannya.Baginya ilmu adalah harta yang
tidak ternilai harganya, serupa air bersih di padang pasir yang tandus,yang
kemudian dengan air itu bisa melenyapkan dahaga dan menumbuhkan pengharapan
yang hampir sirna.
Saya bangga bisa menjadi salah satu sahabat
Afan,serta berharap pertemanan kami akan berlanjut sampai akhir dan tidak akan
pernah putus.
Pekanbaru,24 April 2017
Andi Syarmi
0 komentar:
Posting Komentar