Sabtu, 04 November 2017

Adakah Manusia yang Tulus Ikhlas Memikirkan dan Menolong Individu yang Lain ?


 
Sudah hampir seminggu ini di Pekanbaru,cuacanya sangat panas.Infonya, suhu mencapai 34C.Tati tetangga saya mengeluh,dengan kondisi begini dia repot,karena harus menutup seluruh tubuhnya dengan berbagai macam aksesoris.Dari sweater sampai dengan penutup kepala lubang tiga yang sering di pakai rampok dan copet ketika beraksi.Tati tidak ingin penampilannya ternoda,gara-gara kulitnya belang terkena sengatan matahari.Bagi Tati penampilan adalah numero uno.Pekerjaannya sebagai SPG menuntutnya untuk menjaga penampilan.

Sebetulnya dengan menutup keseluruhan tubuh,Tati juga merasa tidak nyaman .Suhu badannya menjadi naik,sehingga keringat bercucuran.Keringat yang bercampur dengan bakteri yang nangkring di bulu-bulu tubuh akan menimbulkan bau tak sedap.Untuk seorang SPG  yang di kelilingi banyak orang,aroma tubuh yang asam dan apek semerbak itu , tentu sangat tidak di harapkan.

Ketika datang musim hujan,Tati juga mengeluh.Katanya bawa kendaraannya jadi susah,karena kaca helm jadi kabur ,lantaran tepercik butiran air hujan.Belum lagi di ciprati butiran lumpur dari armada roda empat yang berada di depan kendaraannya.Riasan wajah dan dandanan bisa rusak karenanya.

Kondisi yang ideal bagi Tati adalah cuaca yang tidak panas, tidak hujan ,jalanan yang tidak macet dan tidak ber-abu.Dia bisa bebas beraktifitas,sesuai keinginannya.Tidak peduli hak dan kepentingan orang lain.Bagi Tati, pusat dunia adalah dirinya.Segala macam situasi dan kondisi dunia harus disesuaikan dengan kepentingannya.

Serupa dengan segelintir orang yang merasa dirinya orang berkuasa karena mewakili suara orang banyak.Ketika ada aturan yang di anggap mengkerdilkan dirinya dan organisasi tempat mereka bernaung,maka aturan-aturan tersebut harus di rubah dan di sesuaikan dengan kehendaknya.Mereka mendompleng nama rakyat untuk memuluskan urusan.Padahal sebagian besar rakyat kadang tidak setuju dengan aksi yang mereka mainkan.

 Maka terciptalah kemudian sebutan’’ fun shoes’’. Yang kemungkinan semuanya hanya akal bulus.Supaya kekuasaan tidak tergerus dan kepentingan  berjalan mulus.

Atau macam pengusaha kaya yang main officenya di negara lain,tapi mau membangkang terhadap peraturan negara tempat pabrik pengolahannya berdiri.Negara itu mesti mengakomodir segala keinginannya.Bukankah dia telah berinvestasi triliunan rupiah ?.Yang dengan investasi itu pengangguran berkurang dan ekonomi di tempat tersebut menjadi bangkit.Tak peduli lahan yang di lindungi rusak.Yang karena kerusakan itu bisa menimbulkan banjir,kekeringan dan perubahan iklim yang ekstrim.Dan kemudian berdampak kepada masyarakat luas.

Maka kemudian berdemolah karyawan sepanjang jalan.Mereka terintimidasi oleh berita PHK massal yang akan di berlakukan perusahaan.Tentu mereka was-was akan kehilangan pekerjaan.Yang berarti kehilangan pendapatan untuk memenuhi kebutuhan.Dan ujung-ujungnya  bisa di cuekin isteri dan tidak dikasih jatah malam jumatan.

Atau seperti demo para nelayan yang menuntut agar menteri kelautan Susi Pujiastuti,di copot dari jabatannya.Karena menurut mereka, beliau menyengsarakan nelayan Indonesia lewat berbagai keputusan dan peraturan-peraturan yang di buatnya.Padahal menurut menteri Susi,semua itu di berlakukan untuk keberdaulatan,keberlanjutan dan kesejahteraan nelayan Indonesia.

Negara lewat KKP(Kementerian Kelautan & Perikanan),sudah merumuskan berbagai langkah untuk mewujudkan 3 pokok kebijakan tersebut.Penenggalaman kapal asing yang melakukan ilegal fishing,moratorium kapal-kapal besar eks asing yang terbukti melakukan ilegal fishing dan tidak bayar pajak ,kemudian melarang alih muat (Transhipment) di tengah laut,yang kerap di salah gunakan dengan membawa langsung hasil tangkapan ikan ke luar negeri tanpa di laporkan ke otoritas yang berwenang,serta melarang investasi asing di bidang penangkapan ikan,namun membuka investasi asing itu sampai 100% di bidang pengolahan untuk mendukung industri hilir,adalah wujud dari keberdaulatan laut Indonesia.

Kemudian untuk keberlanjutan,KKP melarang penggunaan alat tangkap yang bisa merusak lingkungan dan habitat ikan serta mengancam kelestarian stock ikan dan hasil laut,seperti trawl dan cantrang.Hasil dari kebijakan keberdaulatan dan keberlanjutan laut, tentu akan menciptakan kesejahteraan nelayan Indonesia.Ini terbukti dari indikator Nilai Tukar Nelayan dan Nilai Tukar Usaha Nelayan terus meningkat.PDB sektor perikanan tumbuh 11% dan penerimaan negara dari pajak juga meningkat di sektor ini.

Tetapi bagi sebagian orang aksi-aksi KKP ini tidak ada artinya.Bagi mereka itu adalah pencitraan semata.Untuk kepentingan pemilu berikutnya.Karena tidak sesuai dengan keinginan dan kehendak mereka.Tetapi sebetulnya mungkin saja dalam hati mereka  mengakui dan memuja.Namun ego,kepentingan dan pundi-pundi dunia menutup hati dan membutakan mata.

****

Mbok ya,sekali-kali mikiri hak orang lain.Atau bersedia mengalah untuk kepentingan yang lebih besar.Jangan melulu hanya think about our self only.Kadang ungkapan ”Lamak dek awak katuju dek urang”(kita enak,orang lain bahagia),mesti di aplikasikan dalam kehidupan.

Bagi organisasi yang mengemban amanah orang banyak misalnya, kepentingan masyarakat harus di dahulukan di banding dengan kepentingan organisasi dan pribadi.Jangan sampai amanah yang sudah di berikan,ternodai oleh perbuatan –perbuatan yang bertolak belakang dengan yang di janjikan.

Seorang suami sebagai kepala keluarga dan penentu keputusan,kadang-kadang harus mengalah kepada anak, ketika film Doraemon di putar di minggu pagi.Padahal sang kepala keluarga pengin nonton Tinju dunia dan Moto GP dengan VR 46-nya.Ego mesti di kesampingkan untuk kabahagian mereka. Atau hanya bisa pasrah ke- isteri ketika film India dan Sinetron dangdut D,Academy tayang di televisi,Padahal ILC juga sedang seru-serunya.

Bagi saya tak mengapa,sesekali memberikan kesenangan kepada pasangan yang sudah berjasa besar untuk keluarga.Mulai dari bangun lebih pagi ,untuk mempersiapkan kebutuhan suami dan anak-anak,masak dan beberes rumah,sampai dengan tidur paling telat di malam hari untuk prepare kegiatan esok hari.Bahkan dimalam hari pun kadang tidur tak nyenyak,karena di grepe-in suami yang terdesak keinginan arus bawah.

Memang tidak semua orang peka terhadap hak dan kebutuhan orang lain.Seperti Tati tetangga saya itu.Kadang saya berpikir,apakah semua orang dengan nama Tati egois?.Tapi kemudian saya menepis anggapan tersebut,karena ada teman saya,yang namanya juga Tati ,tetapi orangnya low profile,dan sangat sabar.Walaupun kadang suka di “bully” oleh teman yang lain ketika ada acara kongkow-kongkow bareng,Tati selalu senyum menanggapi candaan itu.Walaupun senyumnya agak kecut,seiring dengan pertambahan usia dan garis-garis ketuaan di wajah.Tapi senyuman itu mampu membuat suasana menjadi hidup dan penuh gelak tawa.

Bagi Tati,teman saya ini, kebersamaan dan menyambung tali silaturahmi lebih penting dari memperturutkan perasaan pribadi.

 

Pekanbaru,01 November 2017

Andi Syarmi

0 komentar:

Posting Komentar