Hari minggu kemarin,Afan mengajak saya untuk bertemu dengan
kawan-kawannya semasa masih bekerja di perusahaan multinasional yang sangat
terkenal itu.Sebagian besar dari mereka,senasib dengan Afan.Memilih untuk resign, lewat program pensiun muda.Acara
yang di gagas oleh Afan itu,bertujuan untuk menjaga tali silaturahmi tetap
terjalin dan mencoba menggali ide-ide baru dari setiap individu yang hadir,dalam
rangka survival serta mencari jalan dan cara agar bisa bermanfaat bagi orang
lain.
Kami bertemu di sebuah kedai kopi terpopuler di kota kami.Kedai
yang konon kabarnya sudah berdiri lebih dari limapuluh tahun itu,tetap eksis
dan di minati masyarakat.Sebagai penggemar kopi,saya dan Afan merasa kedai kopi
ini sangat menjaga cita rasa produknya.Selain enak,rasanya juga tidak pernah
berubah sampai dengan saat ini .
Pelayanannya bagus dan tempatnya bersih .Senyum manis dan
sapaan hangat kami peroleh dari customer officer mereka,ketika
masuk ke dalam kedai kopi.Suasana di dalam kedai pun di atur sedemikian rupa,sehingga
membuat ruangan jadi asri dan nyaman.Apalagi di tambah dengan alunan musik yang
mendayu,macam lagu The Moment dari saxophonenya
Kenny.G , membuat kami ingin berlama-lama menghabiskan waktu di
tempat ini.
Ini yang mungkin membuat kami selalu melakukan kunjungan
ulang,ketika ada kesempatan.Macam teori
kepuasan pelanggan yang di sampaikan
Kotler dan Armstrong (2001:9) : Ketika kinerja produk sesuai atau melebihi
harapan konsumen ,maka tercipta customer
satisfaction yang kemudian menyebabkan pembelian ulang.
Meskipun fakta
membuktikan bahwa tidak semua pelanggan yang puas,melakukan pembelian
ulang,macam warga kota Jakarta yang tidak lagi memilih Cagub petahana,walaupun
72% dari mereka puas dengan kinerjanya selama menjadi Gubernur,tetapi
setidaknya pelanggan yang puas akan menceritakan kepuasannya kepada orang
lain.Semakin banyak orang punya kesan positif terhadap suatu produk,maka akan
tercipta brand equity yang kuat.
***
Sambil menikmati kopi,kami berlima berdiskusi tentang banyak
hal.Dan kemudian diskusi itu mengerucut kepada suatu ide,tentang mendirikan
sebuah usaha bersama.Ide itu terlontar,di sebabkan dendamnya teman-temannya
Afan, terhadap perbuatan dan perkataan yang di nyatakan oleh mantan kolega
mereka,yaitu pak Radar yang sekarang masih bekerja di perusahaan tempat mereka
bekerja terakhir.
Pak Radar pernah beberapa kali menyatakan kepada sales force marketing di perusahaan
tempatnya bekerja,untuk tidak pernah meniru langkah yang di ambil oleh Afan dan
kawan-kawannya.Karena dia beranggapan perusahaan ini adalah tempat terbaik
untuk berkarir dan di jadikan tumpuan penghasilan.
Tidak peduli pada salary
yang di tawarkan sebetulnya berada di bawah standart jika di bandingkan dengan
jam kerjanya,Tidak peduli dengan karir
yang tidak naik-naik selama puluhan tahun, serta tidak peduli dengan harga diri
untuk terus ambil muka di depan atasan dengan berbagai cara yang tidak
patut,untuk mempertahankan posisi atau jabatan.Pokoknya this company is the best dan bagi siapa saja yang resign dari tempat ini,maka dia tidak
akan sukses dan bakalan menyesal seumur hidup.
Pernyataan ini di anggap sebagai pelecehan verbal oleh teman-teman Afan,terhadap pilihan hidup
dan kapabilitas mereka.Pak Radar ini,sebetulnya tidak berada di level
managerial,tapi suka mengaku dan bertingkah layaknya Manager.Dalam meeting dengan sales force,orang ini selalu menyempatkan diri untuk menyampaikan semacam motivation speech,yang kadang bikin eneg orang yang mendengar.
Saya beranggapan orang model pak Radar ini,sudah terkena syndrome comfort zone.Dia sudah merasa
nyaman dengan apa yang di terima dan di sediakan oleh perusahaan,dan dia tidak
berencana untuk merubah hal tersebut.Biasanya orang-orang seperti ini punya
kapasitas dan kemampuan yang berada di low
level,dan kalau sudah berkeluarga,termasuk ke dalam golongan ISTI (Ikatan
Suami Takut Isteri).
Dia tidak menyadari,bahwasanya akan tiba suatu masa,ketika
perusahaan/organisasi tidak lagi memerlukan tenaganya kelak.CR-7 saja yang di
anggap sebagian orang sebagai pemain terbaik sejagat,rencananya akan di jual
oleh klubnya yang sekarang di akhir musim nanti,karena dianggap tidak lagi
seproduktif lima tahun yang lalu.
Ide untuk membangun usaha bersama itu,akhirnya resmi di
sepakati.Walaupun ada beberapa suara pesimisme yang di ungkapkan oleh sebagian
yang hadir.Afan berhasil menyakinkan teman-temannya,dengan mengutip beberapa
ilmu yang di peroleh dari buku best seller,macam” Mereka Bilang Saya Gila” karya Bob Sadino atau ” Change” nya Rhenald Kasali.
Menurut para pakar ini,kalau mau sukses kita harus berubah
dan bekerja keras.Harus berani bermimpi besar,merealisasikan mimpi itu dengan
segera,fokus dan pantang menyerah.Afan percaya itu,karena para pakar itu sudah
membuktikannya.Bob Sadino bahkan merintis usahanya dari bawah sekali.Perjalanan
panjang di laluinya untuk meraih kesuksesan.Mulai dari pekerja bangunan,supir
taksi hingga menjadi tukang jual telur keliling ,semua di lewatinya demi untuk
mewujudkan impiannya.
Tinggal kemauan dari Afan dan kawan-kawan untuk mengcopy keberhasilan orang-orang sukses
itu,di tambah kemudian dengan selalu melibatkan Yang Maha Esa,dalam setiap aktifitas
mereka.
Jam sudah menunjukkan pukul 5 sore,ketika kami memutuskan
bubar,sambil membawa optimisme kesuksesan untuk membungkam para haters yang menyuburkan benih-benih
ke-tidak percaya diri-an dan ke- putus asa-an.
Mister Radar,Watch our
action
Pekanbaru,1 Mei 2017
Andi Syarmi