A homepage subtitle here And an awesome description here!

Minggu, 30 April 2017

Menghindari Jebakan Comfort Zone




Hari minggu kemarin,Afan mengajak saya untuk bertemu dengan kawan-kawannya semasa masih bekerja di perusahaan multinasional yang sangat terkenal itu.Sebagian besar dari mereka,senasib dengan Afan.Memilih untuk resign, lewat program pensiun muda.Acara yang di gagas oleh Afan itu,bertujuan untuk menjaga tali silaturahmi tetap terjalin dan mencoba menggali ide-ide baru dari setiap individu yang hadir,dalam rangka survival serta mencari jalan dan cara agar bisa bermanfaat bagi orang lain.

Kami bertemu di sebuah kedai kopi terpopuler di kota kami.Kedai yang konon kabarnya sudah berdiri lebih dari limapuluh tahun itu,tetap eksis dan di minati masyarakat.Sebagai penggemar kopi,saya dan Afan merasa kedai kopi ini sangat menjaga cita rasa produknya.Selain enak,rasanya juga tidak pernah berubah sampai dengan saat ini .

Pelayanannya bagus dan tempatnya bersih .Senyum manis dan sapaan hangat kami peroleh dari  customer officer mereka,ketika masuk ke dalam kedai kopi.Suasana di dalam kedai pun di atur sedemikian rupa,sehingga membuat ruangan jadi asri dan nyaman.Apalagi di tambah dengan alunan musik yang mendayu,macam lagu The Moment dari saxophonenya  Kenny.G , membuat kami ingin berlama-lama menghabiskan waktu di tempat ini.

Ini yang mungkin membuat kami selalu melakukan kunjungan ulang,ketika ada kesempatan.Macam teori  kepuasan pelanggan yang di sampaikan Kotler dan Armstrong (2001:9) : Ketika kinerja produk sesuai atau melebihi harapan konsumen ,maka tercipta customer satisfaction yang kemudian menyebabkan pembelian ulang.

Meskipun fakta  membuktikan bahwa tidak semua pelanggan yang puas,melakukan pembelian ulang,macam warga kota Jakarta yang tidak lagi memilih Cagub petahana,walaupun 72% dari mereka puas dengan kinerjanya selama menjadi Gubernur,tetapi setidaknya pelanggan yang puas akan menceritakan kepuasannya kepada orang lain.Semakin banyak orang punya kesan positif terhadap suatu produk,maka akan tercipta brand equity yang kuat.

***

Sambil menikmati kopi,kami berlima berdiskusi tentang banyak hal.Dan kemudian diskusi itu mengerucut kepada suatu ide,tentang mendirikan sebuah usaha bersama.Ide itu terlontar,di sebabkan dendamnya teman-temannya Afan, terhadap perbuatan dan perkataan yang di nyatakan oleh mantan kolega mereka,yaitu pak Radar yang sekarang masih bekerja di perusahaan tempat mereka bekerja terakhir.

Pak Radar pernah beberapa kali menyatakan kepada sales force marketing di perusahaan tempatnya bekerja,untuk tidak pernah meniru langkah yang di ambil oleh Afan dan kawan-kawannya.Karena dia beranggapan perusahaan ini adalah tempat terbaik untuk berkarir dan di jadikan tumpuan penghasilan.

Tidak peduli pada salary yang di tawarkan sebetulnya berada di bawah standart jika di bandingkan dengan jam kerjanya,Tidak peduli  dengan karir yang tidak naik-naik selama puluhan tahun, serta tidak peduli dengan harga diri untuk terus ambil muka di depan atasan dengan berbagai cara yang tidak patut,untuk mempertahankan posisi atau jabatan.Pokoknya this company is the best dan bagi siapa saja yang resign dari tempat ini,maka dia tidak akan sukses dan bakalan menyesal seumur hidup.

Pernyataan ini di anggap sebagai pelecehan verbal  oleh teman-teman Afan,terhadap pilihan hidup dan kapabilitas mereka.Pak Radar ini,sebetulnya tidak berada di level managerial,tapi suka mengaku dan bertingkah layaknya Manager.Dalam meeting dengan sales force,orang ini selalu menyempatkan diri untuk  menyampaikan semacam motivation speech,yang kadang bikin eneg orang yang mendengar.

Saya beranggapan orang model pak Radar ini,sudah terkena syndrome comfort zone.Dia sudah merasa nyaman dengan apa yang di terima dan di sediakan oleh perusahaan,dan dia tidak berencana untuk merubah hal tersebut.Biasanya orang-orang seperti ini punya kapasitas dan kemampuan yang berada di low level,dan kalau sudah berkeluarga,termasuk ke dalam golongan ISTI (Ikatan Suami Takut Isteri).

Dia tidak menyadari,bahwasanya akan tiba suatu masa,ketika perusahaan/organisasi tidak lagi memerlukan tenaganya kelak.CR-7 saja yang di anggap sebagian orang sebagai pemain terbaik sejagat,rencananya akan di jual oleh klubnya yang sekarang di akhir musim nanti,karena dianggap tidak lagi seproduktif lima tahun yang lalu.

Ide untuk membangun usaha bersama itu,akhirnya resmi di sepakati.Walaupun ada beberapa suara pesimisme yang di ungkapkan oleh sebagian yang hadir.Afan berhasil menyakinkan teman-temannya,dengan mengutip beberapa ilmu yang di peroleh dari buku best seller,macam” Mereka Bilang Saya Gila” karya Bob Sadino atau ” Change” nya Rhenald Kasali.

Menurut para pakar ini,kalau mau sukses kita harus berubah dan bekerja keras.Harus berani bermimpi besar,merealisasikan mimpi itu dengan segera,fokus dan pantang menyerah.Afan percaya itu,karena para pakar itu sudah membuktikannya.Bob Sadino bahkan merintis usahanya dari bawah sekali.Perjalanan panjang di laluinya untuk meraih kesuksesan.Mulai dari pekerja bangunan,supir taksi hingga menjadi tukang jual telur keliling ,semua di lewatinya demi untuk mewujudkan impiannya.

Tinggal kemauan dari Afan dan kawan-kawan untuk mengcopy keberhasilan orang-orang sukses itu,di tambah kemudian dengan selalu melibatkan Yang Maha Esa,dalam setiap aktifitas mereka.

Jam sudah menunjukkan pukul 5 sore,ketika kami memutuskan bubar,sambil membawa optimisme kesuksesan untuk membungkam para haters yang menyuburkan benih-benih ke-tidak percaya diri-an dan ke- putus asa-an.

Mister Radar,Watch our action


Pekanbaru,1 Mei 2017
Andi Syarmi

Minggu, 23 April 2017

Menjadi Pengemudi yang Baik untuk Diri Sendiri




Ada beberapa tanggapan yang masuk ke Email dan WA saya,setelah tulisan di blog Catatan Andi Syarmi yang berjudul ‘’If You Pay Fresh Meats,You Get Lions’’ posted.Ada yang bertanya, apakah ini fiksi atau real story ?.Karena menurut si penanya, yang lebih banyak bercerita bukan penulis,tetapi  Afan.Apakah tokoh ini ada atau hanya rekaan penulis ?.Atau apakah penulis dengan Afan itu sebenarnya adalah satu individu yang sama?.

Atas pertanyaan –pertanyaan tersebut,saya hanya bisa menyatakan bahwa tulisan itu bersumber dari kisah nyata Afan.Dia menceritakan kisah ini untuk di tulis oleh saya, untuk berbagi pengalaman dengan orang  lain.Barangkali bisa menginspirasi,individu lain yang senasib dengannya.Soal apakah tokoh Afan adalah rekaan,karena sebetulnya tokoh itu dan penulis adalah satu individu yang sama,biar sajalah waktu yang akan mejawab nantinya.

Hari ini,saya berkunjung ke toko Afan.Toko yang menjual barang keperluan sehari-hari itu, di jadikan Afan sebagai usaha perdana,setelah resign sebagai karyawan.Menurut Afan,usahanya ini akan di jadikannya batu pijakan untuk merancang dan menciptakan bisnis-bisnis yang lain.Saya melihat sebuah toko yang  cukup profesional,mulai dari lay out,kebersihan dan service kepada pelanggan,di tangani dengan baik.

Setelah puas melihat dan berkeliling di tokonya,saya di ajak Afan untuk ngopi dan ngobrol di rumahnya.Dan mulailah Afan bercerita.

***

Di akhir karirnya sebagai karyawan,Afan melihat dan mendengar banyak para karyawan senior yang mengeluh tentang karir dan kehidupannya.Pengeluaran yang  bertambah,seiring dengan penambahan anggota keluarga,tidak di iringi dengan peningkatan salary yang memadai.Pos pengeluaran growth 20% setiap tahun,sementara pendapatan hanya bertambah kurang dari 10% setiap tahun.Sehingga terjadi defisit anggaran keuangan,yang kemudian di tambal dengan ngutang. 

Bagi yang kreatif,mereka berusaha menambah pos-pos pendapatan dengan berbagai cara.Ada yang memanfatkan kelebihan pekarangan di rumah,untuk di buat kios kecil dan ada juga yang memanfatkan internet untuk jualan secara online.Atau yang lebih ekstrem,sebagian dari mereka yang merasa dirinya capable,mengundurkan diri dan kemudian bekerja di perusahaan lain yang menawarkan salary lebih tinggi or menjadi entreprenuer full time.

Tetapi bagi kolega Afan yang lain,yang merasa dirinya berkemampuan baik,padahal sebetulnya goblok,hanya bisa menyalahkan perusahaan atas ketidak mampuan dirinya untuk mencari solusi atas masalah keuangan yang dihadapi.Macam petatah-petitih rang tuo-tuo suku Minang,’’Bak galagak gulai kincuang,bak honjak  galanggang tingga’’.Hanya bisa berkoar-koar,tanpa punya planning yang tepat untuk masa depan.Giliran di PHK,karena tidak punya kontribusi positif terhadap perusahaan,mereka nangis memohon-mohon supaya tetap di pertahankan.

Orang seperti ini mungkin tidak pernah mendengar nasihat Benjamin Franklin,seorang filsuf, penulis dan penemu beberapa teori kelistrikan dari USA,yang menyatakan bahwa kata-kata saja tidak cukup untuk membuat orang jadi kenyang,karena kerja keraslahlah yang bisa mengatasinya.Atau orang-orang ini tidak pernah membaca dan mendengar kisah hidup Dahlan Iskan,dengan moto hidupnya kerja,kerja,kerja,yang sekarang di tiru oleh pemerintah itu.

Afan pernah mengalami fase ini dalam hidupnya,ketika dia kecewa dengan beberapa atasannya di perusahaan tempatnya bekerja terakhir.Kekecewaan yang menyebabkan demotivasi,dan kemudian justru merugikan karirnya sendiri.Tapi Afan cepat menyadari kesalahannya,dan mulai mempersiapkan diri untuk menjadi pengusaha.Sambil terus bekerja,Afan mulai ikut pelatihan dan seminar tentang entrepreneurship.

Walaupun  lebih dari  tiga tahun setelahnya baru berhenti menjadi karyawan,karena Afan menunggu saat yang tepat untuk keluar.Afan menunggu untuk memperoleh pension reward yang pantas,yang kelak bisa di pakai sebagai modal untuk berwira usaha.Meski hati tidak lagi ingin menjadi karyawan,tapi akal sehat dan strategi harus tetap di kedepankan untuk membendung emosi,yang mungkin bisa merugikan diri sendiri.

***  

Sambil mendengarkan kisah Afan,saya teringat buku best seller karya Rhenald Khasali yang berjudul Self Driving.Buku yang berkisah tentang bagaimana mengasah mental  menjadi seorang pengemudi yang baik bagi diri sendiri,yaitu seseorang yang memiliki kemampuan istimewa untuk bergerak maju,percaya diri,berani mengambil resiko untuk kemajuan dan selalu mengembangkan diri.

Tidak terjebak kedalam mentalitas penumpang yang buruk,sehingga terbelenggu dengan aura negatif yang penuh kepiluan dan kenestapaan.Kalaupun terpaksa harus  menjadi penumpang ,maka jadilah penumpang yang baik, sopan,tidak neko-neko dan ikut membantu pengemudi untuk mencapai tujuan perjalanan.

Saya pikir,Afan adalah calon good driver.Dia menempa dan mengasah dirinya untuk mencapai level itu.Sampai sekarang pun, Afan selalu menyempatkan diri untuk menambah ilmu di sela kesibukannya.Baginya ilmu adalah harta yang tidak ternilai harganya, serupa air bersih di padang pasir yang tandus,yang kemudian dengan air itu bisa melenyapkan dahaga dan menumbuhkan pengharapan yang hampir sirna.

Saya bangga bisa menjadi salah satu sahabat Afan,serta berharap pertemanan kami akan berlanjut sampai akhir dan tidak akan pernah putus.




Pekanbaru,24 April 2017
Andi Syarmi

Sabtu, 15 April 2017

If You Pay Fresh Meats,You Get Lions




Sabtu adalah hari pertemuan kedua yang saya jadwalkan dengan Afan.Kami  sepakat untuk kembali berdiskusi, sambil ngopi di tempat yang sama dengan pertemuan yang pertama.Kami memilh tempat ini untuk kedua kalinya,karena puas.Baik dari pelayanan,cita rasa makanan dan minuman yang di sajikan,maupun dari harga yang di tawarkan ke konsumen. 

Ketika saya sampai di tempat tersebut,Afan sudah menunggu dengan kopi dan makanan pembuka yang sudah terhidang di atas meja.Semenjak SMA kami memang doyan ngopi sambil berdiskusi.Afan membuka percakapan,dengan menginformasikan ke saya bahwa dia mulai merintis bisnis sendiri dengan membuka toko yang menyediakan barang-barang harian.Toko ini bakal di jadikan Afan sebagai pondasi untuk membangun bisnis berikutnya di bidang yang lain.Cita-citanya adalah membangun sebuah korporasi,yang membawahi beberapa unit bisnis.

Afan optimis untuk mewujudkan impiannya itu.Dia mempunyai pengalaman selama puluhan tahun di perusahaan multinasional kelas dunia,dan punya jaringan yang cukup luas.Di tambah dengan kerja keras,tekun menambah ilmu untuk mengembangkan wawasan,dan berdoa kepada Tuhan yang Maha Esa,Afan haqqul yakin bakal sukses.

Kami kemudian terlibat obrolan menarik,tentang berbagai topik.Salah satunya, tentang pengalaman Afan menjadi karyawan.

Sebetulnya Afan mempunyai sense of belonging yang sangat tinggi terhadap perusahaan,tempat dia bekerja terakhir.Hal itulah yang membuatnya mampu bertahan  selama hampir dua dekade.Afan hanya kecewa dengan segelintir orang,di perusahaan itu yang merusak rasa tersebut.Afan tidak sendirian,sebagian koleganya juga merasakan hal yang sama.Kekecewaan kemudian menumbuhkan antipati terhadap perusahaan,yang kemudian berimbas terhadap kemampuan bersaing perusahaan.

Mungkin ini yang membuat perusahaan itu tidak pernah menjadi yang terbaik.Di bidangnya,beberapa produk andalan perusahaan itu gagal menjadi pemuncak di negeri ini,kecuali hanya satu atau dua produk saja.Baik dari market share maupun dari sisi top brand.Kalaupun ada satu- dua merk produknya di peringkat teratas,kontribusinya terhadap total bidang bisnis itupun persentasenya hanya belasan.

Padahal pemilik modal sudah menggelontorkan triliunan rupiah untuk membangun infrastruktur dan memperkuat pondasi perusahaan.Yang menjadi sorotan Afan adalah manajemen seperti lupa membentuk sumber daya manusia yang tangguh.Para manager senior tidak lagi mempunyai insting yang kuat untuk merekrut calon pemimpin perusahaan kelak,baik dari eksternal maupun internal.Promosi karyawan lebih di dasari oleh penilaian subyektif,sehingga menimbulkan demotivasi dari sebagian karyawan lain yang berkemampuan baik dan sudah bekerja keras, tetapi tidak pernah di lirik.

Padahal menurut beberapa pakar kepemimpinan, dengan mempromosikan dan menempatkan orang yang tepat, di bidang yang tepat pula,maka separuh dari tujuan perusahaan sudah tercapai.Afan kemudian menyebutkan beberapa nama koleganya kepada saya dan sekarang menempati posisi middle manager, yang menurutnya tidak layak menempati posisi tersebut.

Mereka menurut Afan mempunyai wawasan dan kemampuan technical yang kurang memadai untuk memangku jabatan manager.Mereka hanya punya kelebihan dalam bersosialisasi.Jika kepada atasan,mereka melakukan pendekatan personal,seperti  sering mengajak  atasan pergi mancing dan main Play Station bersama di waktu libur atau menyediakan diri untuk antar dan jemput anak atasan,pergi dan pulang sekolah.

Mereka berharap dengan cara ini, jabatan mereka langgeng.Karena semakin dekat hubungan personal dengan atasan,maka atasan akan semakin segan untuk memberi sanksi jika mereka salah.Atau akan tetap mempertahankan jabatan maupun mempromosikan mereka,karena si atasan merasa berutang budi (kan,sudah ngantar anaknya pergi ke sekolah),walaupun sebetulnya dari segi kemampuan  mereka tidak layak untuk itu

Sedangkan pendekatan kepada bawahan,adalah dengan memberikan motivasi untuk melakukan apa saja untuk meraih Key Performance Indicator yang di tetapkan manajemen perusahaan.Tetapi ketika bawahan terkendala,maka mereka tidak memberikan solusi positif untuk meyelesaikan kendala  itu.Bahkan kadangkala mereka menyuruh bawahan untuk melakukan jalan pintas yang melanggar aturan, untuk mencapai tujuan tersebut.Macam pelatih olahraga yang menyuruh atlitnya  mengkonsumsi doping,untuk meraih medali emas. 

Orang-orang seperti ini, serupa dengan ungkapan suku Minang Kabau,”Bialah tanduak bakubang asal muncuang lai makan.”

***

Jam di tangan saya sudah menunjukan pukul  4 sore,ketika Afan melanjutkan ceritanya.Saat ini perusahaan tersebut, tampaknya menyadari keteledoran mereka selama ini.Mereka mulai merekrut calon karyawan baru yang lebih qualified dan memberhentikan karyawan lama yang tidak potensial.Walaupun mereka mesti membayar salary yang lebih tinggi kepada karyawan baru,tetapi Afan percaya bahwa hasil yang di terima perusahaan akan jauh lebih baik di banding dengan mempertahankan orang lama.

Adalah sebuah fakta klub sepakbola semacam Real Madrid yang mempunyai beban gaji tertinggi  untuk membayar pemain,tetapi mampu menjadi klub terkaya di dunia.Ketika para pemain yang di bayar mahal dapat memberi kontribusi maksimal terhadap klub,baik dari segi prestasi maupun dari sisi keuntungan klub.

Dan adalah fakta juga klub-klub gurem,macam Eibar di La Liga yang anggaran tahunannya hampir sama dengan gaji Christiano Ronaldo seorang,tidak pernah bisa naik kelas menjadi klub maju.ini menjadi bukti membayar pemain dengan gaji standart,tidak akan membuat klub maju pesat.Kontribusi dan kemampuan pemain akan sesuai dengan salary yang di terimanya.Serupa dengan peribahasa,’’If you pay peanuts,you get monkeys.’’

Mungkin fakta dari klub sepakbola tersebut yang mendasari keputusan perusahaan yang pernah mempekerjakan Afan itu,untuk berubah.Perusahaan harus tetap survive,dan salah satu caranya adalah dengan menerima dan mempertahankan orang-orang potensial,terutama yang muda-muda.Dan membuang orang-orang yang kelihatan pintar dan tegas,tetapi sebetulnya goblok.Termasuk para manager senior,macam mister Jeje yang suka mengincar wanita cantik dan   mulus yang notabene adalah bawahannya, untuk di jadikan ‘’Teman tapi mesra.’’

Walau punya sejarah yang kurang bagus di perusahaan itu,tetapi Afan tetap mendoakan supaya mereka tetap ada dan berkembang di negeri ini.Karena walau bagaimanapun,perusahaan itu pernah menjadi tumpuan penghasilan Afan dan keluarga.Wawasan keilmuan Afan ,khususnya sales dan marketing  menjadi berkembang di sana.

Ketika waktu menunjukan jam 5 sore,kami sepakat untuk mengakhiri pertemuan kali ini.Untuk pertemuan berikutnya, Afan mengundang saya melihat tokonya dan melanjutkan ngopi di sana.



Pekanbaru,14 April 2017
Andi Syarmi

Kamis, 06 April 2017

Menjadi Nakhoda di Kapal Pribadi




Hari ini saya bertemu Afan, teman yang sudah lama tidak bertemu.Kami tidak sengaja bertemu di sebuah mall besar di kota tempat saya berdomisili.Afan adalah teman akrab saya semasa SMA.Waktu itu hampir seluruh kegiatan sehari-hari saya,ada Afan di dalamnya.Kami saling mengisi dan membutuhkan (tapi bukan seperti hubungan Sir Elton Jhon dan David Furnish,lho).Dia pintar,serius dan kutu buku,sementara saya sebaliknya.

Kami berpisah, ketika dia melanjutkan pendidikan di daerah lain dan kemudian langsung tinggal di tempat tersebut karena dapat tawaran pekerjaan.Kami kehilangan kontak satu sama lain,setelah itu.Mungkin karena kesibukan dalam urusan keluarga dan pekerjaan.Saya berbisnis barang-barang kelontong,sementara Afan menjadi karyawan.

Setelah melepas kangen,kami kemudian ngopi di salah satu gerai di mall itu.Kami bercerita ngalor ngidul,tentang banyak hal.Mulai dari si Tini,teman sekolah dulu,yang sering ketiduran dan ngences di sekolah, tetapi sekarang punya nasib baik jadi pengusaha kaya.Atau tentang si Anto yang  punya prestasi akademik bagus semasa SMA, tetapi saat ini cuma jadi pengasuh anak dan supir pribadi isterinya.

Kemudian sampailah cerita Afan tentang dirinya.Setelah lulus kuliah,dia di terima sebagai Supervisor divisi marketing di perusahaan besar berskala internasional ,yang beberapa merk produknya adalah merk dengan value mahal di negeri ini. Afan bangga bisa bergabung dengan perusahaan sebesar dan seterkenal itu.Dalam pikirannya,selain prestise, tentu fasilitas yang akan di terima sebanding  dengan nama besar perusahaan tersebut.

Tapi yang di bayangkan Afan tidak semuanya tepat.Base salary yang dia terima sebagai seorang supervisor,lebih kecil dari upah buruh minimum di kota Bekasi.Walaupun ada embel-embel tambahan penghasilan dari tunjangan insentif apabila target volume penjualan tercapai,tetapi insentif itu jarang di peroleh karena target penjualan yang di tetapkan terlampau tinggi.Afan pernah di berikan target mesti growth 50% sampai 80% di banding tahun lalu,sementara pertumbuhan ekonomi global hanya di kisaran 3% dan pertumbuhan ekonomi tertinggi hanya di angka 6% - 7%.Target itu bagi Afan, macam Rio Haryanto di bebani target harus jadi juara F1.Sebuah optimisme yang tidak realistis. 

Awalnya Afan masih bisa memaklumi keadaan tersebut, dia kan, karyawan baru.Dia mesti bekerja keras dulu,baru kemudian akan di hargai secara pantas.Harus memperlihatkan kualitas diri,baru kemudian bisa di promosikan ke jabatan yang lebih tinggi.dengan memaklumi hal tersebut,Afan menjaga motivasinya untuk selalu berada di level tertinggi.Supaya hasil kerjanya juga berada di spot excellent,sehingga reward yang di terimapun sesuai dengan yang di janjikan perusahaan.

Sampai akhirnya waktu masa kerja Afan sudah berada di angka dua digit, motivasi yang selalu di jaganya itu tiba-tiba jatuh dan hancur berkeping-keping, macam kepingan pesawat Sukhoi Superjet 100 yang jatuh di Gunung Salak beberapa waktu yang lalu.Ketika base salary koleganya naik 40%,sementara dia hanya 10%.Padahal Key Performance Indicator Afan,yang menjadi dasar kenaikan base salary, berada di atas para koleganya itu.Dan kemudian tidak ada jawaban memuaskan dari para pemangku kepentingan,kecuali  ucapan, “tolong di terima saja keputusan itu dengan lapang dada”.

Bagi Afan itu sesuatu yang ganjil.Perusahaan besar, bonafid, punya sistem dan program mutakhir tapi masih melakukan kesalahan mendasar.Like and dislike masih di kedepankan,tidak hanya di lakukan oleh para manager kelas bawah tapi juga di praktekkan oleh beberapa orang di level top managerial.

Afan berkisah mengenai seorang manager seniornya,Mister Jeje,yang suka tidak tahan tatkala melihat betis dan paha mulus wanita.Jakunnya bisa naik turun macam pria tua yang asma nya kumat.Dia akan berusaha mendekati  target yang di tuju  dengan segala cara,mulai dari pendekatan bos kepada bawahan sampai dengan pendekatan bapak kepada anak.Tujuannya adalah supaya ada yang nemani ngobrol sambil pijit-pijit di penginapan dan mana tahu ada yang bersedia di jadikan isteri siri.

Yang di sesalkan Afan, bukanlah tabiat si bos itu.Tetapi gara-gara kedekatan emosionalnya dengan beberapa karyawan wanita itu,menyebabkan penilaiannya terhadap kinerja karyawan menjadi bias.Ketika ada promosi,maka yang akan di angkat adalah wanita yang dekat dengan dia tersebut.Walaupun secara kapabilitas dan kinerja, si wanita sebetulnya berada di bawah kandidat  yang lain.Begitu juga kalau terjadi pelanggaran terhadap Perjanjian Kerja Bersama,yang di lindungi adalah orang yang dekat dengan si bos.Walaupun sebetulnya orang dekatnya itu lebih layak di berikan SP atau di PHK.

****

Pada akhirnya Afan mengajukan pengunduran diri yang bertepatan juga dengan program pensiun muda  di gagas oleh perusahaan.Sebetulnya Afan gamang ,karena merasa belum siap secara finansial.Tapi keputusan harus di ambil,karena dia menderita secara fisik dan mental.Semenjak dua tahun belakangan, Afan bekerja asal-asalan,sehingga performance appraisalnya jelek dan kinerjanya itu jadi mengganggu ke unit atau divisi yang lain.

Walaupun Afan mengaku  saat ini,dari sisi keuangan ,belum ada peningkatan dari sebelumnya ,namun Afan bahagia dengan keputusannya.Hidupnya jadi lebih tenang dan kedekatannya dengan Yang Maha Kuasa menjadi lebih intim.Hubungannya dengan isteri, anak-anak dan keluarga besar pun menjadi lebih kuat.

Dari cara Afan bertutur saya melihat optimisme untuk meraih kehidupan yang lebih baik.Dia bertekad untuk jadi seorang entrepreneur sukses.Sekarang Afan sering ikut pelatihan dan seminar untuk mencapai impiannya itu.Bukankah lebih baik menjadi Nakhoda di kapal milik sendiri,daripada menghabiskan umur menjadi ABK biasa yang tidak di anggap dan di sia-siakan di kapal besar ?.Karena bisa saja kapal kecil yang kita Nakhodai akan berkembang menjadi kapal besar suatu hari nanti.

Setelah ngopi dan berdiskusi lebih dari tiga jam,kami kemudian berpisah dan sepakat untuk saling kontak serta bertemu setidaknya 1 bulan sekali for sharing.Sahabat sejati memang harus saling mendukung dan berbagi.


Andi Syarmi,4 April 2017