Hari ini saya bertemu Afan, teman yang sudah
lama tidak bertemu.Kami tidak sengaja bertemu di sebuah mall besar di kota
tempat saya berdomisili.Afan adalah teman akrab saya semasa SMA.Waktu itu
hampir seluruh kegiatan sehari-hari saya,ada Afan di dalamnya.Kami saling
mengisi dan membutuhkan (tapi bukan seperti hubungan Sir Elton Jhon dan David
Furnish,lho).Dia pintar,serius dan kutu buku,sementara saya sebaliknya.
Kami berpisah, ketika dia melanjutkan
pendidikan di daerah lain dan kemudian langsung tinggal di tempat tersebut
karena dapat tawaran pekerjaan.Kami kehilangan kontak satu sama lain,setelah
itu.Mungkin karena kesibukan dalam urusan keluarga dan pekerjaan.Saya berbisnis
barang-barang kelontong,sementara Afan menjadi karyawan.
Setelah melepas kangen,kami kemudian ngopi di
salah satu gerai di mall itu.Kami bercerita ngalor ngidul,tentang banyak
hal.Mulai dari si Tini,teman sekolah dulu,yang sering ketiduran dan ngences di
sekolah, tetapi sekarang punya nasib baik jadi pengusaha kaya.Atau tentang si
Anto yang punya prestasi akademik bagus
semasa SMA, tetapi saat ini cuma jadi pengasuh anak dan supir pribadi isterinya.
Kemudian sampailah cerita Afan tentang
dirinya.Setelah lulus kuliah,dia di terima sebagai Supervisor divisi marketing
di perusahaan besar berskala internasional ,yang beberapa merk produknya adalah
merk dengan value mahal di negeri ini.
Afan bangga bisa bergabung dengan perusahaan sebesar dan seterkenal itu.Dalam
pikirannya,selain prestise, tentu fasilitas yang akan di terima sebanding dengan nama besar perusahaan tersebut.
Tapi yang di bayangkan Afan tidak semuanya
tepat.Base salary yang dia terima
sebagai seorang supervisor,lebih kecil dari upah buruh minimum di kota
Bekasi.Walaupun ada embel-embel tambahan penghasilan dari tunjangan insentif
apabila target volume penjualan tercapai,tetapi insentif itu jarang di peroleh
karena target penjualan yang di tetapkan terlampau tinggi.Afan pernah di berikan
target mesti growth 50% sampai 80% di
banding tahun lalu,sementara pertumbuhan ekonomi global hanya di kisaran 3% dan
pertumbuhan ekonomi tertinggi hanya di angka 6% - 7%.Target itu bagi Afan, macam
Rio Haryanto di bebani target harus jadi juara F1.Sebuah optimisme yang tidak
realistis.
Awalnya Afan masih bisa memaklumi keadaan tersebut,
dia kan, karyawan baru.Dia mesti bekerja keras dulu,baru kemudian akan di
hargai secara pantas.Harus memperlihatkan kualitas diri,baru kemudian bisa di
promosikan ke jabatan yang lebih tinggi.dengan memaklumi hal tersebut,Afan
menjaga motivasinya untuk selalu berada di level tertinggi.Supaya hasil
kerjanya juga berada di spot excellent,sehingga
reward yang di terimapun sesuai dengan yang di janjikan perusahaan.
Sampai akhirnya waktu masa kerja Afan sudah
berada di angka dua digit, motivasi yang selalu di jaganya itu tiba-tiba jatuh
dan hancur berkeping-keping, macam kepingan pesawat Sukhoi Superjet 100 yang
jatuh di Gunung Salak beberapa waktu yang lalu.Ketika base salary koleganya
naik 40%,sementara dia hanya 10%.Padahal Key
Performance Indicator Afan,yang menjadi dasar kenaikan base salary, berada di atas para koleganya itu.Dan kemudian tidak
ada jawaban memuaskan dari para pemangku kepentingan,kecuali ucapan, “tolong di terima saja keputusan itu
dengan lapang dada”.
Bagi Afan itu sesuatu yang ganjil.Perusahaan
besar, bonafid, punya sistem dan program mutakhir tapi masih melakukan
kesalahan mendasar.Like and dislike masih di kedepankan,tidak hanya di lakukan
oleh para manager kelas bawah tapi juga di praktekkan oleh beberapa orang di
level top managerial.
Afan berkisah mengenai seorang manager
seniornya,Mister Jeje,yang suka tidak tahan tatkala melihat betis dan paha
mulus wanita.Jakunnya bisa naik turun macam pria tua yang asma nya kumat.Dia
akan berusaha mendekati target yang di
tuju dengan segala cara,mulai dari
pendekatan bos kepada bawahan sampai dengan pendekatan bapak kepada
anak.Tujuannya adalah supaya ada yang nemani ngobrol sambil pijit-pijit di
penginapan dan mana tahu ada yang bersedia di jadikan isteri siri.
Yang di sesalkan Afan, bukanlah tabiat si bos
itu.Tetapi gara-gara kedekatan emosionalnya dengan beberapa karyawan wanita
itu,menyebabkan penilaiannya terhadap kinerja karyawan menjadi bias.Ketika ada
promosi,maka yang akan di angkat adalah wanita yang dekat dengan dia tersebut.Walaupun
secara kapabilitas dan kinerja, si wanita sebetulnya berada di bawah
kandidat yang lain.Begitu juga kalau
terjadi pelanggaran terhadap Perjanjian Kerja Bersama,yang di lindungi adalah
orang yang dekat dengan si bos.Walaupun sebetulnya orang dekatnya itu lebih
layak di berikan SP atau di PHK.
****
Pada akhirnya Afan mengajukan pengunduran diri
yang bertepatan juga dengan program pensiun muda di gagas oleh perusahaan.Sebetulnya Afan
gamang ,karena merasa belum siap secara finansial.Tapi keputusan harus di
ambil,karena dia menderita secara fisik dan mental.Semenjak dua tahun
belakangan, Afan bekerja asal-asalan,sehingga performance appraisalnya jelek dan kinerjanya itu jadi mengganggu
ke unit atau divisi yang lain.
Walaupun Afan mengaku saat ini,dari sisi keuangan ,belum ada
peningkatan dari sebelumnya ,namun Afan bahagia dengan keputusannya.Hidupnya
jadi lebih tenang dan kedekatannya dengan Yang Maha Kuasa menjadi lebih intim.Hubungannya
dengan isteri, anak-anak dan keluarga besar pun menjadi lebih kuat.
Dari cara Afan bertutur saya melihat optimisme
untuk meraih kehidupan yang lebih baik.Dia bertekad untuk jadi seorang entrepreneur sukses.Sekarang Afan sering
ikut pelatihan dan seminar untuk mencapai impiannya itu.Bukankah lebih baik
menjadi Nakhoda di kapal milik sendiri,daripada menghabiskan umur menjadi ABK
biasa yang tidak di anggap dan di sia-siakan di kapal besar ?.Karena bisa saja
kapal kecil yang kita Nakhodai akan berkembang menjadi kapal besar suatu hari
nanti.
Setelah ngopi dan berdiskusi lebih dari tiga
jam,kami kemudian berpisah dan sepakat untuk saling kontak serta bertemu
setidaknya 1 bulan sekali for sharing.Sahabat
sejati memang harus saling mendukung dan berbagi.
Andi Syarmi,4 April 2017
0 komentar:
Posting Komentar