Kamis, 06 April 2017

Menjadi Nakhoda di Kapal Pribadi




Hari ini saya bertemu Afan, teman yang sudah lama tidak bertemu.Kami tidak sengaja bertemu di sebuah mall besar di kota tempat saya berdomisili.Afan adalah teman akrab saya semasa SMA.Waktu itu hampir seluruh kegiatan sehari-hari saya,ada Afan di dalamnya.Kami saling mengisi dan membutuhkan (tapi bukan seperti hubungan Sir Elton Jhon dan David Furnish,lho).Dia pintar,serius dan kutu buku,sementara saya sebaliknya.

Kami berpisah, ketika dia melanjutkan pendidikan di daerah lain dan kemudian langsung tinggal di tempat tersebut karena dapat tawaran pekerjaan.Kami kehilangan kontak satu sama lain,setelah itu.Mungkin karena kesibukan dalam urusan keluarga dan pekerjaan.Saya berbisnis barang-barang kelontong,sementara Afan menjadi karyawan.

Setelah melepas kangen,kami kemudian ngopi di salah satu gerai di mall itu.Kami bercerita ngalor ngidul,tentang banyak hal.Mulai dari si Tini,teman sekolah dulu,yang sering ketiduran dan ngences di sekolah, tetapi sekarang punya nasib baik jadi pengusaha kaya.Atau tentang si Anto yang  punya prestasi akademik bagus semasa SMA, tetapi saat ini cuma jadi pengasuh anak dan supir pribadi isterinya.

Kemudian sampailah cerita Afan tentang dirinya.Setelah lulus kuliah,dia di terima sebagai Supervisor divisi marketing di perusahaan besar berskala internasional ,yang beberapa merk produknya adalah merk dengan value mahal di negeri ini. Afan bangga bisa bergabung dengan perusahaan sebesar dan seterkenal itu.Dalam pikirannya,selain prestise, tentu fasilitas yang akan di terima sebanding  dengan nama besar perusahaan tersebut.

Tapi yang di bayangkan Afan tidak semuanya tepat.Base salary yang dia terima sebagai seorang supervisor,lebih kecil dari upah buruh minimum di kota Bekasi.Walaupun ada embel-embel tambahan penghasilan dari tunjangan insentif apabila target volume penjualan tercapai,tetapi insentif itu jarang di peroleh karena target penjualan yang di tetapkan terlampau tinggi.Afan pernah di berikan target mesti growth 50% sampai 80% di banding tahun lalu,sementara pertumbuhan ekonomi global hanya di kisaran 3% dan pertumbuhan ekonomi tertinggi hanya di angka 6% - 7%.Target itu bagi Afan, macam Rio Haryanto di bebani target harus jadi juara F1.Sebuah optimisme yang tidak realistis. 

Awalnya Afan masih bisa memaklumi keadaan tersebut, dia kan, karyawan baru.Dia mesti bekerja keras dulu,baru kemudian akan di hargai secara pantas.Harus memperlihatkan kualitas diri,baru kemudian bisa di promosikan ke jabatan yang lebih tinggi.dengan memaklumi hal tersebut,Afan menjaga motivasinya untuk selalu berada di level tertinggi.Supaya hasil kerjanya juga berada di spot excellent,sehingga reward yang di terimapun sesuai dengan yang di janjikan perusahaan.

Sampai akhirnya waktu masa kerja Afan sudah berada di angka dua digit, motivasi yang selalu di jaganya itu tiba-tiba jatuh dan hancur berkeping-keping, macam kepingan pesawat Sukhoi Superjet 100 yang jatuh di Gunung Salak beberapa waktu yang lalu.Ketika base salary koleganya naik 40%,sementara dia hanya 10%.Padahal Key Performance Indicator Afan,yang menjadi dasar kenaikan base salary, berada di atas para koleganya itu.Dan kemudian tidak ada jawaban memuaskan dari para pemangku kepentingan,kecuali  ucapan, “tolong di terima saja keputusan itu dengan lapang dada”.

Bagi Afan itu sesuatu yang ganjil.Perusahaan besar, bonafid, punya sistem dan program mutakhir tapi masih melakukan kesalahan mendasar.Like and dislike masih di kedepankan,tidak hanya di lakukan oleh para manager kelas bawah tapi juga di praktekkan oleh beberapa orang di level top managerial.

Afan berkisah mengenai seorang manager seniornya,Mister Jeje,yang suka tidak tahan tatkala melihat betis dan paha mulus wanita.Jakunnya bisa naik turun macam pria tua yang asma nya kumat.Dia akan berusaha mendekati  target yang di tuju  dengan segala cara,mulai dari pendekatan bos kepada bawahan sampai dengan pendekatan bapak kepada anak.Tujuannya adalah supaya ada yang nemani ngobrol sambil pijit-pijit di penginapan dan mana tahu ada yang bersedia di jadikan isteri siri.

Yang di sesalkan Afan, bukanlah tabiat si bos itu.Tetapi gara-gara kedekatan emosionalnya dengan beberapa karyawan wanita itu,menyebabkan penilaiannya terhadap kinerja karyawan menjadi bias.Ketika ada promosi,maka yang akan di angkat adalah wanita yang dekat dengan dia tersebut.Walaupun secara kapabilitas dan kinerja, si wanita sebetulnya berada di bawah kandidat  yang lain.Begitu juga kalau terjadi pelanggaran terhadap Perjanjian Kerja Bersama,yang di lindungi adalah orang yang dekat dengan si bos.Walaupun sebetulnya orang dekatnya itu lebih layak di berikan SP atau di PHK.

****

Pada akhirnya Afan mengajukan pengunduran diri yang bertepatan juga dengan program pensiun muda  di gagas oleh perusahaan.Sebetulnya Afan gamang ,karena merasa belum siap secara finansial.Tapi keputusan harus di ambil,karena dia menderita secara fisik dan mental.Semenjak dua tahun belakangan, Afan bekerja asal-asalan,sehingga performance appraisalnya jelek dan kinerjanya itu jadi mengganggu ke unit atau divisi yang lain.

Walaupun Afan mengaku  saat ini,dari sisi keuangan ,belum ada peningkatan dari sebelumnya ,namun Afan bahagia dengan keputusannya.Hidupnya jadi lebih tenang dan kedekatannya dengan Yang Maha Kuasa menjadi lebih intim.Hubungannya dengan isteri, anak-anak dan keluarga besar pun menjadi lebih kuat.

Dari cara Afan bertutur saya melihat optimisme untuk meraih kehidupan yang lebih baik.Dia bertekad untuk jadi seorang entrepreneur sukses.Sekarang Afan sering ikut pelatihan dan seminar untuk mencapai impiannya itu.Bukankah lebih baik menjadi Nakhoda di kapal milik sendiri,daripada menghabiskan umur menjadi ABK biasa yang tidak di anggap dan di sia-siakan di kapal besar ?.Karena bisa saja kapal kecil yang kita Nakhodai akan berkembang menjadi kapal besar suatu hari nanti.

Setelah ngopi dan berdiskusi lebih dari tiga jam,kami kemudian berpisah dan sepakat untuk saling kontak serta bertemu setidaknya 1 bulan sekali for sharing.Sahabat sejati memang harus saling mendukung dan berbagi.


Andi Syarmi,4 April 2017

0 komentar:

Posting Komentar